Juli 2007
Hari ini adalah hari pertama anak sekolah memulai pelajarannya di semester 1. Reva sebangku dengan Wina. Sewaktu guru memasuki ruang kelas, ia membawa seorang murid baru, namanya Dika. Ia pindahan dari Cirebon.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Anak-anak, kalian sudah mengenalnya?"
"Belum, Bu"
"Silahkan perkenalkan dirimu, Nak", Bu guru mempersilahkan Dika.
"Hai, nama saya Andikarya. Kalian panggil aja Dika. Saya pindahan dari Cirebon, sebab ayah saya mendapat tugas di Kota. Saya harap kalian senang berteman dengan saya"
"Dika, silahkan kamu duduk di sebelah sana bersama Auzy", Bu guru menunjukkan.
"Hai Dik, semoga kamu betah di sini ya"
"Oke, makasih Auzy"
Tempat duduk Dika dan Auzy bersebrangan dengan Reva. Pada saat jam istirahat, Reva ditemani dengan Wina berkenalan dengan Dika.
"Hai Dik. Kenalin, namaku Revanya Deswita. Panggil aja Reva. Aku harap kamu betah ya di sini", sapa Reva.
"Hai juga. Iya, semoga saja"
Sesampainya di kantin, Auzy mengajak Reva, Wina, dan Dika bermain Petak Umpet. Dari situlah persahabatan mereka dimulai.
Kring...! Bel berbunyi. Semua anak bubar dari kelasnya masing-masing. Saat ingin keluar dari gerbang sekolah, Reva dan Wina dipanggil oleh Dika.
"Reva, Wina"
"Ada apa Dik?", tanya Reva penasaran.
"Ntar sore main sepeda yuk. Rumah kita kan berdekatan"
Wina membujuk," Ayo Reva!"
"Hmmm, boleh. Jam setengah empat aku tunggu di pos ronda ya"
"Oke"
Sore harinya, mereka pun jadi bersepeda keliling perumahan. Makin hari pertemanan mereka semakin erat dan bisa dibilang "Persahabatan".
April 2008
Hari ini ada pelajaran olahraga. Materi yang mereka bahas kali ini adalah permainan kasti. Tentunya Reva sekelompok dengan Wina dan anak perempuan lainnya, sedangkan Dika sekelompok dengan Auzy dan anak laki-laki lainnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Reva, Wina, Dika, dan Auzy bikin kesepakatan, jika di antara mereka kalah, mereka harus membelikan es buah di kantin untuk si pemenang. Hal itu membuat mereka ingin memperebutkan kemenangan.
"Permainan akan dimulai, silahkan kalian tentukan nasib kalian sendiri"
Semua anak bersorak-sorak memberi semangat.
"Priiiittt...! Kelompok Dika pemenangnya", sebut Pak Kanief, guru olahraga mereka.
"Yes!", Dika senang sekali. Reva berusaha untuk bersembunyi agar tidak ditagih janjinya.
Saat di perjalanan pulang, Reva dan Wina dikejar-kejar oleh Dika dan Auzy hingga akhirnya mereka kehilangan jejak untuk mengejar. Reva dan Wina salah arah jalan pulang, mereka malah memasuki kawasan pesawahan.
"Huft"
"Akhirnya, lega juga"
Walau mereka agak sedikit lega, tapi lebih banyak rasa ketakutan. Saat keluar dari kawasan tersebut, mereka berlari dan berpapasan dengan kambing hingga akhirnya mereka dikejar-kejar kambing.
"Buset! Kambing...!"
Keesokan harinya, mereka (Reva dan Wina) ditertawakan oleh Dika dan Auzy. Reva menangis, Dika dan Auzy dipanggil Bu Sri. Mereka akhirnya baikan kembali.
Juli 2009
Pada 21 Juli, itu adalah hari ulang tahun Reva. Ia mendapat banyak kejutan dari teman-temannya.Saat keluar kelas, Reva dikerjain teman-temannya yang sudah memiliki rencana.
"Dorrr...! Happy birthday Reva!", teman-temannya memberi kejutan dengan lemparan telur dan terigu dari balik pintu.
"Aduuuuhhh...!"
"Moga sehat, panjang umur, makin pinter, makin dewasa, dan apa yang diinginkan di usia kini tercapai", Wina mewakili.
"Amiiinnn...", teman-teman serentak.
"Oke, thank you all. Aduh, bau banget!"
Oktober 2009
Hari ini kelas mereka sedang menerima raport bayangan. Baru kali ini, nilai raport Reva jelek, sampai akhirnya tidak diperbolehkan main keluar rumah, terkecuali belajar kelompok.
Siang harinya, Wina kesepian di rumahnya.
"Aduh, bete nih di rumah mulu", keluh Wina di kamarnya. "Apa gua ajak aja ya mereka ke sini? Coba SMS dulu akh"
Dika dan Auzy diperbolehkan main oleh orang tuanya, sayangnya Reva tidak. Dika dan Auzy sudah berkumpul di rumah Wina. Mereka menginginkan kehadiran Reva. Sampai akhirnya Reva berbohong.
"Bete gak ada temen main, mana Wina ngajak main lagi. Apa gua bilang ke eyang aja kalo ceritanya mau kerja kelompok? Ahaha, fix! Eyang, Reva kerja kelompok dulu ya"
"Di mana?", tanya eyang.
"Biasa, rumah Wina"
Sesampainya di rumah Wina, Reva gembira sekali. Namun, gerimis berubah menjadi hujan. Padahal rencana mereka ingin pergi ke warnet.
"Yah, hujan. Gimana nih?", keluh Auzy.
"Aha, gimana kita main hujan-hujanan?", saran Wina.
"Ayo!", jawab serentak.
Mereka merasa terbebas. Lempar-lemparan mangga, menari dan bernyanyi di bawah hujan, dan berkejar-kejaran. Mereka istirahat di bawah pohon mangga, menikmati gorengan yang masih hangat, dan teh manis yang baru saja dibuat.
November 2009
Hanya karena masalah sepele, Auzy dan Dika bertengkar di belakang sekolah.
"Dasar cupu!", ledek Auzy.
"Apa lo! Berani sama gua? Hah? Jangan sok jadi orang!"
Reva yang mendengarnya, langsung lari ke tempat untuk melerai.
"Eh, kalian ini pada kenapa sih? Kayak anak kecil aja. Kalian udah kelas 5, malu tau!"
"Awas lo!", bentak Auzy.
Dika yang berusaha ingin memukul Auzi langsung ditahan oleh Reva.
"Eeehhh, Dika! Auzy juga nih!"
Dari situlah persahabatan mereka mulai retak. Kini tinggallah Reva, Wina, dan Dika. Perasaan Reva sangatlah sedih. Padahal keinginan Reva semua bertahan sampai dewasa nanti. Ditambah lagi Wina yang curhat melalui telepon ingin pindah rumah dan sekolah ke daerah lain, hal itu menambah kesedihan Reva.
Desember 2009
"Kamu itu ya. Maunya gimana sih? Aduh, nilai raportmu jelek banget!", sesal ibu Reva.
"Maafin Reva, Mam. Reva janji deh"
"Janji? Kamu bisa berkata janji, tapi apa kamu bisa melaksanakan itu semua?"
Perasaan Reva hancur. Karena masalah di pikirannya itu nilainya ikut terbawa jelek. Sampai suatu hari, ibunya sedang menguncir rambut Reva. Dan ada satu permintaan ibunya yang baginya itu sangatlah sulit untuk dikatakan iya.
"Mami, kuncirin rambut Reva dong"
"Sini mami kuncirin" diam sejenak "Selesai"
"Oke, makasih mami"
"Reva, mami boleh bicara sesuatu gak?"
"Apa mam?"
"Kamu sayang kan sama mami? Mami juga sayang sama kamu. Tapi, mami boleh minta sesuatu gak?"
"Apa tuh?"
"Kamu mau pindah sekolah? Mami tuh gak mau nilai raportmu terus menerus jelek. Kata Tante Ivie, SD Alamanda (sekolah baru) itu sekolah yang terfavorit dan percontohan di DKI Jakarta. Di sekolah barumu nanti, mami yakin kok kamu akan berprestasi lagi"
"Tapi, Reva belom janji ya bisa bilang iya", kata Reva sambil meninggalkan kamar ibunya.
"Reva..."
Reva bingung. Dan akhirnya iya pergi ke kamarnya dan mengirim SMS ke Dika.
Perkataan dalam percakapan itu hanyalah sandiwara. Padahal, Reva lebih memilih ikut ibunya.
Januari 2010
Tahun berganti, kini Reva berada di sekolah barunya. Di sana, Reva memiliki banyak kenalan. Kembali ke Dika, ia merasa kesepian. Dika merasa kecewa dan dibohongi oleh Reva. Hanya Ester dan Lewis temannya yang kini selalu ada di setiap waktunya. Setiap hari Reva diantarjemput oleh jemputan sekolahnya. Sampai suatu hari, jemputannya melewati sekolah lamanya dan terlihatlah oleh Dika. Sebenarnya Dika amatlah menyayangi Reva, begitupun juga Reva.
"Sahabat, aku tau kamu kecewa. Tapi hati ini akan tetap menyayangimu. Aku yakin, suatu hari nanti kita akan bersama lagi"
"Maafkan aku sobat. Diamku ini karena aku kecewa, tapi juga karena aku sedih dan tak kuasa merelakan kepergianmu. Jangan kau risaukan, air mata yang membasahi pipi ini. Karena aku turut berbahagia jika kau bahagia, walau tak bersamaku"



