Selasa, 21 Mei 2013

KKN (Kiki Kinanty Reininda)... aneh, nyata, lucu,...

Sore semuanya...
Gua mau berbagi ilmu nih. Kali ini tentang sejarah, yaitu Sejarah KKN *maksudnya apa nin* (?) Lanjut lah, ntar juga ngerti...
KKN itu singkatan dari Kiki Kinanty Ninda. Itu nama persahabatan. Sebenernya gua pertama kali kenal sama Kinanty dari Vitha waktu kelas 7, sebulan kemudian kenalan sama Kiki, karena eskul kita dulu sama, yaitu bulutangkis.
Tapi, rasanya lebih deket pas kita udah kelas 8 sampai sekarang ini. Waktu itu, sekolah mau mengadakan perpisahan kepala sekolah. Nah, gua sama Kinanty dan yang lainnya jadi vocal group-nya, yang nyanyi untuk isi acara gitu lho. Semakin deket pas Kinanty tau kalo gua suka sama si...*udah ah gausah disebut, harap disensor namanya*. Ya begitu deh, caper di depannya gitu, tapi sekarang udah gasuka koq sama si itu. Ssssttt...lupakan masa lalu. Setiap ketemu, curhat, pasti kita pake episode gitu. Gua terinspirasi sama Kinanty, dia bakatnya menggambar sama nyanyi, karena gua gabisa gambar. Sekali pun gambar pasti kayak benang kusut, warnain aja gua kayak eceng gondok. Hoaaammm memalukan >_< Nah, pas semester 2, setiap mau lari pagi kita jadi suka bareng, Kinanty tiba-tiba nyapa Kiki. Gua baru inget, yaudah jadi bertiga deh, makin seru ^_^ walau gua yang sering ditinggal gara-gara lelet kalo lari, wkwk -_- sampe di sini dulu yaw. Udah curhatnya, mau ngerjain pr dulu *nah loh* :3

Minggu, 21 April 2013

Sahabat Tersayang (The Real Story)

Juli 2007
Hari ini adalah hari pertama anak sekolah memulai pelajarannya di semester 1. Reva sebangku dengan Wina. Sewaktu guru memasuki ruang kelas, ia membawa seorang murid baru, namanya Dika. Ia pindahan dari Cirebon.
"Assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumsalam"
"Anak-anak, kalian sudah mengenalnya?"
"Belum, Bu"
"Silahkan perkenalkan dirimu, Nak", Bu guru mempersilahkan Dika.
"Hai, nama saya Andikarya. Kalian panggil aja Dika. Saya pindahan dari Cirebon, sebab ayah saya mendapat tugas di Kota. Saya harap kalian senang berteman dengan saya"
"Dika, silahkan kamu duduk di sebelah sana bersama Auzy", Bu guru menunjukkan.
"Hai Dik, semoga kamu betah di sini ya"
"Oke, makasih Auzy"
Tempat duduk Dika dan Auzy bersebrangan dengan Reva. Pada saat jam istirahat, Reva ditemani dengan Wina berkenalan dengan Dika.
"Hai Dik. Kenalin, namaku Revanya Deswita. Panggil aja Reva. Aku harap kamu betah ya di sini", sapa Reva.
"Hai juga. Iya, semoga saja"
Sesampainya di kantin, Auzy mengajak Reva, Wina, dan Dika bermain Petak Umpet. Dari situlah persahabatan mereka dimulai. 
Kring...! Bel berbunyi. Semua anak bubar dari kelasnya masing-masing. Saat ingin keluar dari gerbang sekolah, Reva dan Wina dipanggil oleh Dika.
"Reva, Wina"
"Ada apa Dik?", tanya Reva penasaran.
"Ntar sore main sepeda yuk. Rumah kita kan berdekatan"
Wina membujuk," Ayo Reva!"
"Hmmm, boleh. Jam setengah empat aku tunggu di pos ronda ya"
"Oke"
Sore harinya, mereka pun jadi bersepeda keliling perumahan. Makin hari pertemanan mereka semakin erat dan bisa dibilang "Persahabatan". 

April 2008
Hari ini ada pelajaran olahraga. Materi yang mereka bahas kali ini adalah permainan kasti. Tentunya Reva sekelompok dengan Wina dan anak perempuan lainnya, sedangkan Dika sekelompok dengan Auzy dan anak laki-laki lainnya. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Reva, Wina, Dika, dan Auzy bikin kesepakatan, jika di antara mereka kalah, mereka harus membelikan es buah di kantin untuk si pemenang. Hal itu membuat mereka ingin memperebutkan kemenangan.
"Permainan akan dimulai, silahkan kalian tentukan nasib kalian sendiri"
Semua anak bersorak-sorak memberi semangat.
"Priiiittt...! Kelompok Dika pemenangnya", sebut Pak Kanief, guru olahraga mereka.
"Yes!", Dika senang sekali. Reva berusaha untuk bersembunyi agar tidak ditagih janjinya.
Saat di perjalanan pulang, Reva dan Wina dikejar-kejar oleh Dika dan Auzy hingga akhirnya mereka kehilangan jejak untuk mengejar. Reva dan Wina salah arah jalan pulang, mereka malah memasuki kawasan pesawahan.
"Huft"
"Akhirnya, lega juga"
Walau mereka agak sedikit lega, tapi lebih banyak rasa ketakutan. Saat keluar dari kawasan tersebut, mereka berlari dan berpapasan dengan kambing hingga akhirnya mereka dikejar-kejar kambing.
"Buset! Kambing...!"
Keesokan harinya, mereka (Reva dan Wina) ditertawakan oleh Dika dan Auzy. Reva menangis, Dika dan Auzy dipanggil Bu Sri. Mereka akhirnya baikan kembali.

Juli 2009
Pada 21 Juli, itu adalah hari ulang tahun Reva. Ia mendapat banyak kejutan dari teman-temannya.Saat keluar kelas, Reva dikerjain teman-temannya yang sudah memiliki rencana.
"Dorrr...! Happy birthday Reva!", teman-temannya memberi kejutan dengan lemparan telur dan terigu dari balik pintu.
"Aduuuuhhh...!"
"Moga sehat, panjang umur, makin pinter, makin dewasa, dan apa yang diinginkan di usia kini tercapai", Wina mewakili.
"Amiiinnn...", teman-teman serentak.
"Oke, thank you all. Aduh, bau banget!"

Oktober 2009
Hari ini kelas mereka sedang menerima raport bayangan. Baru kali ini, nilai raport Reva jelek, sampai akhirnya tidak diperbolehkan main keluar rumah, terkecuali belajar kelompok.
Siang harinya, Wina kesepian di rumahnya.
"Aduh, bete nih di rumah mulu", keluh Wina di kamarnya. "Apa gua ajak aja ya mereka ke sini? Coba SMS dulu akh"
Dika dan Auzy diperbolehkan main oleh orang tuanya, sayangnya Reva tidak. Dika dan Auzy sudah berkumpul di rumah Wina. Mereka menginginkan kehadiran Reva. Sampai akhirnya Reva berbohong.
"Bete gak ada temen main, mana Wina ngajak main lagi. Apa gua bilang ke eyang aja kalo ceritanya mau kerja kelompok? Ahaha, fix! Eyang, Reva kerja kelompok dulu ya"
"Di mana?", tanya eyang.
"Biasa, rumah Wina"
Sesampainya di rumah Wina, Reva gembira sekali. Namun, gerimis berubah menjadi hujan. Padahal rencana mereka ingin pergi ke warnet.
"Yah, hujan. Gimana nih?", keluh Auzy.
"Aha, gimana kita main hujan-hujanan?", saran Wina.
"Ayo!", jawab serentak.
Mereka merasa terbebas. Lempar-lemparan mangga, menari dan bernyanyi di bawah hujan, dan berkejar-kejaran. Mereka istirahat di bawah pohon mangga, menikmati gorengan yang masih hangat, dan teh manis yang baru saja dibuat. 

November 2009
Hanya karena masalah sepele, Auzy dan Dika bertengkar di belakang sekolah.
"Dasar cupu!", ledek Auzy.
"Apa lo! Berani sama gua? Hah? Jangan sok jadi orang!"
Reva yang mendengarnya, langsung lari ke tempat untuk melerai.
"Eh, kalian ini pada kenapa sih? Kayak anak kecil aja. Kalian udah kelas 5, malu tau!"
"Awas lo!", bentak Auzy.
Dika yang berusaha ingin memukul Auzi langsung ditahan oleh Reva.
"Eeehhh, Dika! Auzy juga nih!"
Dari situlah persahabatan mereka mulai retak. Kini tinggallah Reva, Wina, dan Dika. Perasaan Reva sangatlah sedih. Padahal keinginan Reva semua bertahan sampai dewasa nanti. Ditambah lagi Wina yang curhat melalui telepon ingin pindah rumah dan sekolah ke daerah lain, hal itu menambah kesedihan Reva.

Desember 2009
"Kamu itu ya. Maunya gimana sih? Aduh, nilai raportmu jelek banget!", sesal ibu Reva.
"Maafin Reva, Mam. Reva janji deh"
"Janji? Kamu bisa berkata janji, tapi apa kamu bisa melaksanakan itu semua?"
Perasaan Reva hancur. Karena masalah di pikirannya itu nilainya ikut terbawa jelek. Sampai suatu hari, ibunya sedang menguncir rambut Reva. Dan ada satu permintaan ibunya yang baginya itu sangatlah sulit untuk dikatakan iya.
"Mami, kuncirin rambut Reva dong"
"Sini mami kuncirin" diam sejenak "Selesai"
"Oke, makasih mami"
"Reva, mami boleh bicara sesuatu gak?"
"Apa mam?"
"Kamu sayang kan sama mami? Mami juga sayang sama kamu. Tapi, mami boleh minta sesuatu gak?"
"Apa tuh?"
"Kamu mau pindah sekolah? Mami tuh gak mau nilai raportmu terus menerus jelek. Kata Tante Ivie, SD Alamanda (sekolah baru) itu sekolah yang terfavorit dan percontohan di DKI Jakarta. Di sekolah barumu nanti, mami yakin kok kamu akan berprestasi lagi"
"Tapi, Reva belom janji ya bisa bilang iya", kata Reva sambil meninggalkan kamar ibunya.
"Reva..."
Reva bingung. Dan akhirnya iya pergi ke kamarnya dan mengirim SMS ke Dika.


Perkataan dalam percakapan itu hanyalah sandiwara. Padahal, Reva lebih memilih ikut ibunya. 

Januari 2010
Tahun berganti, kini Reva berada di sekolah barunya. Di sana, Reva memiliki banyak kenalan. Kembali ke Dika, ia merasa kesepian. Dika merasa kecewa dan dibohongi oleh Reva. Hanya Ester dan Lewis temannya yang kini selalu ada di setiap waktunya. Setiap hari Reva diantarjemput oleh jemputan sekolahnya. Sampai suatu hari, jemputannya melewati sekolah lamanya dan terlihatlah oleh Dika. Sebenarnya Dika amatlah menyayangi Reva, begitupun juga Reva.
"Sahabat, aku tau kamu kecewa. Tapi hati ini akan tetap menyayangimu. Aku yakin, suatu hari nanti kita akan bersama lagi"
"Maafkan aku sobat. Diamku ini karena aku kecewa, tapi juga karena aku sedih dan tak kuasa merelakan kepergianmu. Jangan kau risaukan, air mata yang membasahi pipi ini. Karena aku turut berbahagia jika kau bahagia, walau tak bersamaku"




Jumat, 12 April 2013

Mengejar Mimpi

Di sebuah kota, ada tiga bersahabat, namanya Tina, Ida, dan Ujang. Mereka hidup dengan penuh kemiskinan. Impiannya adalah sekolah. Setiap harinya, mereka bekerja sebagai tukang barang bekas. 
"Barang bekas...barang bekas..."
Sehabis bekerja, mereka duduk bersandar di bawah pohon mangga.
"Huft, capek", keluh Ida sambil mengelap keringatnya.
Ujang yang tertidur mengigau, "Emak, nilai raport Ujang keren! Ujang dibeliin hape"
Tina dan Ida yang sedang membaca buku dari hasil kerjanya sebagai tukang barang bekas kaget mendengarnya.
"Lah? Ini bocah ngigau. Bangun, woy!", teriak Tina membangunkan Ujang.
"Tin, jangan begitu sama Ujang. Kasian dia", tegur Ida.
"Hoaammm...ada apa sih?", tanya Ujang yang kelelahan.
Di tengah peristirahatannya, mereka melihat awan-awan di langit yang perlahan-lahan berpudaran, sehingga muncul teriknya sinar matahari.
"Wow! Silau", teriak mereka dengan kompak.
Mereka pun membukakan mata. Hati mereka menjadi kagum.
"Wah, awannya bagus!", ucap Tina dan Ujang.
Ida menyusul, "Subhanallah"
Ujang mengkhayal, "Seandainya kita bisa terbang ke sana. Kita bisa sekolah, pokoknya hidup kita layak deh!"
Tina yang tahu diri langsung mengomentari Ujang, "Tapi kan kita gak punya biaya untuk sekolah?"
Tak seharusnya kita berputus asa. Karena di sini ada masalah di sana ada jalan. Ida selalu yakin bahwa impiannya akan terwujud.
"Hmmm, iya juga sih. Tapi kita harus selalu yakin. Hidup berubah-ubah seperti roda yang berputar. Suatu saat nanti, insya Allah impian kita akan terwujud"
Sesampainya di rumah, Ida langsung menunaikan solat Maghrib. Setelah itu ia berdoa dan menitikkan air mata.
" Ya Allah, aku ingin sekolah, aku ingin membahagiakan orang tua, serta orang-orang di sekitarku. Ringankanlah bebanku, berikanlah kekuatan hati, untuk menjalankan ibadahmu Ya Allah. Rabbana atina fiddunya hassanah wa fil akhirati hassanah waqina adzaabannaar, amiiin"
Do'a Ida terdengar ibunya yang sedang melewati kamarnya. Ibunya terharu dan menangis.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa memenuhi keinginanmu. Insya Allah, kalau ada rezeki, Ibu akan mendaftarkan dan membelikanmu perlengkapan sekolah"
Ibunya terus memperhatikan Ida yang sangat begitu optimis untuk mengejar mimpinya. Setiap malam Ida membaca buku yang diperolehnya sewaktu memulung. 
Seminggu kemudian, mereka tidak bekerja, tetapi mereka pergi ke sekolah dekat rumahnya. Diam-diam mereka masuk lewat pintu belakang sekolah.
"Pssstttt..."
Tanpa bosan, mereka memperhatikan seorang guru yang sedang mengajar di kelas.
"Oh, ini yang namanya sekolah", ucap Tina.
"Iya, ini yang Ujang mau. Kalo kita sekolah, pasti kita lebih pandai", Ujang menyambung.
Tak lama kemudian, mereka ketahuan penjaga sekolah. Mereka menjadi ketakutan dan melarikan diri, namun akhirnya terperangkap. Penjaga sekolah itu langsung membawanya ke ruang Kepala Sekolah.
"Hei, pada ngapain kalian di sana?"
"Hah? Lariii...!!!"
"Lapor, Pak. Ada tiga anak yang lancang tanpa izin memasuki wilayah sekolah ini"
"Sudah, biarkan saja saya bicara dengan anak-anak ini". Untungnya Kepala Sekolah itu berhati mulia. Sehingga tiga bersahabat itu masih diberi kesempatan untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
"Dari mana asal kalian? Ada keperluan apa?"
Ujang gemetar, "Ddddariii kampung sebelah, Pak. Kami mau kayak mereka, mau sekolah. Tapi gak ada biaya"
Diam sejenak, Kepala Sekolah memberi beberapa pertanyaan. Dan semua pertanyaan itu bisa dijawab. 
"Kamu tau? Berapa letak astronomis Indonesia?"
"95 derajat Bujur Timur sampai 141 Bujur Timur dan 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan", jawab Ida.
"Dasar negara Indonesia?"
"Pancasila", jawab Tini.
"Planet yang kita tempati?"
"Bumi", jawab Ujang.
"Nah! Saya punya satu pertanyaan lagi. Mengapa terjadi siang dan malam?"
Dari situ mereka kebingungan. Tak lama kemudian, Ida ingat dengan apa yang pernah ia pelajari dari bukunya. Dan jawabannya itu benar. Sehingga mereka bisa diterima belajar di sekolah tersebut.
"Karena bumi kita berotasi"
"Ya! Jawabanmu benar. Saya terima kalian untuk belajar di sini. Kalau boleh saya tau, darimana kalian bisa tau itu semua?"
"Membaca adalah kuncinya", jawab mereka serentak. "Yes!"
Sungguh senang hati mereka. Dari sini kita tahu, bahwa suatu keinginan yang disertai dengan do'a dan usaha, pasti itu semua akan tercapai.







Kamis, 11 April 2013

Selamat Datang Cinta

Kring...! Bel berbunyi. Semua anak memasuki kelasnya masing-masing. Hari ini adalah hari pertama MOPDB. Setiap siswa baru, harus menuruti apa perintah kakak OSIS. Di antaranya adalah membawa bunga, coklat, dan yang paling memalukan adalah memakai kalung name tag dan pita 3 ikat di rambut.
"Isshh, memalukan!", kata salah satu siswa.
Saat jam istirahat, Ayla, salah seorang siswa dari SD Alamanda, sedang duduk menulis buku hariannya di kelas. Tak lama kemudian, Vinie, teman sekolahnya dulu, datang menghampirinya.
"Hey! Kok diem aja sih? Eh, lagi nulis apa tuh?"
"Hmmm, kasih tau gak ya?", jawab Ayla.
"Pasti lagi nulis cerita cinta. Siapa tau kamu udah ada yang disuka"
"Apaan sih. Vinie, baru dua minggu libur, aku udah mulai kangen sama temen-temen SD"
"Samiun, tapi kan kita udah SMP. Kalo mau balik lagi aja ke SD"
"Iiihh, engga ah!"
Dari lantai bawah, Anan berlari menuju kelas Ayla. Sesampainya di kelas, Anan menarik lengan Ayla.Tentunya hal itu membuat Ayla penasaran.
"Fiyuh, Ayla, pokoknya lo harus ikut gua!"
"Loh, ada apa sih, Nan?"
"Udah, ikut aja"
Di tengah tangga, Ayla melepas genggaman Anan.
Ayla bertanya, "Eh, maksud lo itu apa sih?"
"huh..huh..lo bisa main keyboard kan?"
"Iya, kenapa?"
"Tadi kakak OSIS nanyain, ada yang bisa main keyboard gak? Nah terus gua jawab iya. Kak, ini orangnya"
Kakak OSIS itu menengok. Namun kakak OSIS itu merasa tidak enak, karena dirinya telah menemukan pemain yang lain, yaitu Nuril. Ayla memberikan kesempatan itu kepada Nuril. Di sinilah sejarah cintanya.
"Hmmm, iya, dek. Maaf, ya. Kakak udah menemukan pemain yang lain"
"Oh, tidak masalah, kak. Biarkan dia saja yang bermain", kata Ayla.
Nuril dan Ayla saling tatap-menatap. Ayla menyukai Nuril. Sayangnya, Nuril tidak menyukainya, karena belum begitu mengenal Ayla. Nuril hanya menyukai Lia, penulis cerpen best seller yang satu sekolah dengannya kini.
Sepulang sekolah, Ayla kembali menulis buku hariannya. Ia memberinya judul "Selamat Datang Cinta".



Hari Minggu, Vinie bermain ke rumah baru Ayla. Ayla sedang merapikan kamar barunya dan dibantu oleh Vinie.
"Aylaaaa...", teriak Vinie.
"Iya, masuk aja"
"Cie, rumah baru nih?"
"Hehe, biasa aja"
"Boleh aku bantu?"
"Oh, boleh kok"
"Ayla, ada telepon dari Paman", teriak ibunya dari lantai bawah.
"Iya, ma. Vin, aku ke bawah dulu, ya. Kamu gapapa kan di sini dulu?"
"Iya, gapapa kok"
"Iya, ma. Bentar", teriak Ayla yang menuju ke bawah.
"Hmmm, banyak juga barang koleksi Ayla. La, aku minjam buku Bahasa Inggris ya"
"Brekkk...!", tepat di halaman 13, ada buku kecil yang terselip di dalamnya. Tanpa sepengetahuan Ayla Vinie membacanya. Rahasianya pun menjadi ketahuan Vinie. Beberapa lama kemudian, Ayla kembali ke kamarnya. Antara kesal dan malu rasanya ketika rahasianya ketahuan Vinie.
"Vinie?"
"La, kamu kenapa engga cerita ke aku? Aku tau kamu suka sama Nuril. Aku ini kan sahabatmu dari kecil, apa kamu udah engga percaya lagi sama aku?", tanya Vinie kepada Ayla.
"Engga kok. Aku masih ragu, malu buat cerita hal ini ke kamu. Karena ini belum saatnya"
"Ayla, setiap insan di dunia ini berhak merasakan cinta. Tak ada yang berhak untuk melarangnya, termasuk aku. Barangkali aku bisa bantu kamu"
"Hah? Engga perlu kok. Makasih atas niat baiknya, tapi aku masih belum siap. Biar waktu yang menjawab"

  
6 bulan kemudian...

Hari Jumat, sekolah mereka akan menerima raport bayangan. Mereka membersihkan kelasnya masing-masing. Ayla memang mempunyai asma, sehingga ia mudah lelah. Saat ingin mengembalikan sapu ke kelas sebelah, Ayla bertemu dengan Anan. Tanpa Ayla sadari, Anan sedang bersama Nuril.
"Eh, gua denger lo suka sama Si Endut"
"Loh, emangnya kenapa? Masalah buat lo? Diem akh, gua lagi capek", bentak Ayla yang lelah.
"Lo liat sebelah gua deh!"
Ayla kaget. Ia hanya bisa marah kepada Anan dan memukulnya dengan kemoceng. Lalu Nuril menegornya.
"Dasar kambing kurus, item, jelek!"
"Eeeh, jangan dipukulin. Kasian Anan"
"Eh, Nuril. Abis dia nyebelin sih", jawab Ayla dengan malu. "Awas lo kambing!"
"Akh, cewek gendut!", ledek Anan.
Nuril butuh kepastian, bukan keraguan. Ia meminta nomor telepon Ayla ke Anan. Malamnya, Nuril mengirim Ayla sebuah SMS.



Dari situ perasaan Ayla menjadi tenang. Bagi Ayla, ini juga sudah cukup.Ayla menjadi memiliki banyak teman. Bahkan kini ia suka bekerjasama dengan Nuril dalam bermusik. Dari pengalaman tersebut, ia mengambil hikmahnya, seperti yang tertulis pada buku hariannya ini.






-The End-