Kamis, 11 April 2013

Selamat Datang Cinta

Kring...! Bel berbunyi. Semua anak memasuki kelasnya masing-masing. Hari ini adalah hari pertama MOPDB. Setiap siswa baru, harus menuruti apa perintah kakak OSIS. Di antaranya adalah membawa bunga, coklat, dan yang paling memalukan adalah memakai kalung name tag dan pita 3 ikat di rambut.
"Isshh, memalukan!", kata salah satu siswa.
Saat jam istirahat, Ayla, salah seorang siswa dari SD Alamanda, sedang duduk menulis buku hariannya di kelas. Tak lama kemudian, Vinie, teman sekolahnya dulu, datang menghampirinya.
"Hey! Kok diem aja sih? Eh, lagi nulis apa tuh?"
"Hmmm, kasih tau gak ya?", jawab Ayla.
"Pasti lagi nulis cerita cinta. Siapa tau kamu udah ada yang disuka"
"Apaan sih. Vinie, baru dua minggu libur, aku udah mulai kangen sama temen-temen SD"
"Samiun, tapi kan kita udah SMP. Kalo mau balik lagi aja ke SD"
"Iiihh, engga ah!"
Dari lantai bawah, Anan berlari menuju kelas Ayla. Sesampainya di kelas, Anan menarik lengan Ayla.Tentunya hal itu membuat Ayla penasaran.
"Fiyuh, Ayla, pokoknya lo harus ikut gua!"
"Loh, ada apa sih, Nan?"
"Udah, ikut aja"
Di tengah tangga, Ayla melepas genggaman Anan.
Ayla bertanya, "Eh, maksud lo itu apa sih?"
"huh..huh..lo bisa main keyboard kan?"
"Iya, kenapa?"
"Tadi kakak OSIS nanyain, ada yang bisa main keyboard gak? Nah terus gua jawab iya. Kak, ini orangnya"
Kakak OSIS itu menengok. Namun kakak OSIS itu merasa tidak enak, karena dirinya telah menemukan pemain yang lain, yaitu Nuril. Ayla memberikan kesempatan itu kepada Nuril. Di sinilah sejarah cintanya.
"Hmmm, iya, dek. Maaf, ya. Kakak udah menemukan pemain yang lain"
"Oh, tidak masalah, kak. Biarkan dia saja yang bermain", kata Ayla.
Nuril dan Ayla saling tatap-menatap. Ayla menyukai Nuril. Sayangnya, Nuril tidak menyukainya, karena belum begitu mengenal Ayla. Nuril hanya menyukai Lia, penulis cerpen best seller yang satu sekolah dengannya kini.
Sepulang sekolah, Ayla kembali menulis buku hariannya. Ia memberinya judul "Selamat Datang Cinta".



Hari Minggu, Vinie bermain ke rumah baru Ayla. Ayla sedang merapikan kamar barunya dan dibantu oleh Vinie.
"Aylaaaa...", teriak Vinie.
"Iya, masuk aja"
"Cie, rumah baru nih?"
"Hehe, biasa aja"
"Boleh aku bantu?"
"Oh, boleh kok"
"Ayla, ada telepon dari Paman", teriak ibunya dari lantai bawah.
"Iya, ma. Vin, aku ke bawah dulu, ya. Kamu gapapa kan di sini dulu?"
"Iya, gapapa kok"
"Iya, ma. Bentar", teriak Ayla yang menuju ke bawah.
"Hmmm, banyak juga barang koleksi Ayla. La, aku minjam buku Bahasa Inggris ya"
"Brekkk...!", tepat di halaman 13, ada buku kecil yang terselip di dalamnya. Tanpa sepengetahuan Ayla Vinie membacanya. Rahasianya pun menjadi ketahuan Vinie. Beberapa lama kemudian, Ayla kembali ke kamarnya. Antara kesal dan malu rasanya ketika rahasianya ketahuan Vinie.
"Vinie?"
"La, kamu kenapa engga cerita ke aku? Aku tau kamu suka sama Nuril. Aku ini kan sahabatmu dari kecil, apa kamu udah engga percaya lagi sama aku?", tanya Vinie kepada Ayla.
"Engga kok. Aku masih ragu, malu buat cerita hal ini ke kamu. Karena ini belum saatnya"
"Ayla, setiap insan di dunia ini berhak merasakan cinta. Tak ada yang berhak untuk melarangnya, termasuk aku. Barangkali aku bisa bantu kamu"
"Hah? Engga perlu kok. Makasih atas niat baiknya, tapi aku masih belum siap. Biar waktu yang menjawab"

  
6 bulan kemudian...

Hari Jumat, sekolah mereka akan menerima raport bayangan. Mereka membersihkan kelasnya masing-masing. Ayla memang mempunyai asma, sehingga ia mudah lelah. Saat ingin mengembalikan sapu ke kelas sebelah, Ayla bertemu dengan Anan. Tanpa Ayla sadari, Anan sedang bersama Nuril.
"Eh, gua denger lo suka sama Si Endut"
"Loh, emangnya kenapa? Masalah buat lo? Diem akh, gua lagi capek", bentak Ayla yang lelah.
"Lo liat sebelah gua deh!"
Ayla kaget. Ia hanya bisa marah kepada Anan dan memukulnya dengan kemoceng. Lalu Nuril menegornya.
"Dasar kambing kurus, item, jelek!"
"Eeeh, jangan dipukulin. Kasian Anan"
"Eh, Nuril. Abis dia nyebelin sih", jawab Ayla dengan malu. "Awas lo kambing!"
"Akh, cewek gendut!", ledek Anan.
Nuril butuh kepastian, bukan keraguan. Ia meminta nomor telepon Ayla ke Anan. Malamnya, Nuril mengirim Ayla sebuah SMS.



Dari situ perasaan Ayla menjadi tenang. Bagi Ayla, ini juga sudah cukup.Ayla menjadi memiliki banyak teman. Bahkan kini ia suka bekerjasama dengan Nuril dalam bermusik. Dari pengalaman tersebut, ia mengambil hikmahnya, seperti yang tertulis pada buku hariannya ini.






-The End-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar