Jumat, 12 April 2013

Mengejar Mimpi

Di sebuah kota, ada tiga bersahabat, namanya Tina, Ida, dan Ujang. Mereka hidup dengan penuh kemiskinan. Impiannya adalah sekolah. Setiap harinya, mereka bekerja sebagai tukang barang bekas. 
"Barang bekas...barang bekas..."
Sehabis bekerja, mereka duduk bersandar di bawah pohon mangga.
"Huft, capek", keluh Ida sambil mengelap keringatnya.
Ujang yang tertidur mengigau, "Emak, nilai raport Ujang keren! Ujang dibeliin hape"
Tina dan Ida yang sedang membaca buku dari hasil kerjanya sebagai tukang barang bekas kaget mendengarnya.
"Lah? Ini bocah ngigau. Bangun, woy!", teriak Tina membangunkan Ujang.
"Tin, jangan begitu sama Ujang. Kasian dia", tegur Ida.
"Hoaammm...ada apa sih?", tanya Ujang yang kelelahan.
Di tengah peristirahatannya, mereka melihat awan-awan di langit yang perlahan-lahan berpudaran, sehingga muncul teriknya sinar matahari.
"Wow! Silau", teriak mereka dengan kompak.
Mereka pun membukakan mata. Hati mereka menjadi kagum.
"Wah, awannya bagus!", ucap Tina dan Ujang.
Ida menyusul, "Subhanallah"
Ujang mengkhayal, "Seandainya kita bisa terbang ke sana. Kita bisa sekolah, pokoknya hidup kita layak deh!"
Tina yang tahu diri langsung mengomentari Ujang, "Tapi kan kita gak punya biaya untuk sekolah?"
Tak seharusnya kita berputus asa. Karena di sini ada masalah di sana ada jalan. Ida selalu yakin bahwa impiannya akan terwujud.
"Hmmm, iya juga sih. Tapi kita harus selalu yakin. Hidup berubah-ubah seperti roda yang berputar. Suatu saat nanti, insya Allah impian kita akan terwujud"
Sesampainya di rumah, Ida langsung menunaikan solat Maghrib. Setelah itu ia berdoa dan menitikkan air mata.
" Ya Allah, aku ingin sekolah, aku ingin membahagiakan orang tua, serta orang-orang di sekitarku. Ringankanlah bebanku, berikanlah kekuatan hati, untuk menjalankan ibadahmu Ya Allah. Rabbana atina fiddunya hassanah wa fil akhirati hassanah waqina adzaabannaar, amiiin"
Do'a Ida terdengar ibunya yang sedang melewati kamarnya. Ibunya terharu dan menangis.
"Maafkan Ibu, Nak. Ibu belum bisa memenuhi keinginanmu. Insya Allah, kalau ada rezeki, Ibu akan mendaftarkan dan membelikanmu perlengkapan sekolah"
Ibunya terus memperhatikan Ida yang sangat begitu optimis untuk mengejar mimpinya. Setiap malam Ida membaca buku yang diperolehnya sewaktu memulung. 
Seminggu kemudian, mereka tidak bekerja, tetapi mereka pergi ke sekolah dekat rumahnya. Diam-diam mereka masuk lewat pintu belakang sekolah.
"Pssstttt..."
Tanpa bosan, mereka memperhatikan seorang guru yang sedang mengajar di kelas.
"Oh, ini yang namanya sekolah", ucap Tina.
"Iya, ini yang Ujang mau. Kalo kita sekolah, pasti kita lebih pandai", Ujang menyambung.
Tak lama kemudian, mereka ketahuan penjaga sekolah. Mereka menjadi ketakutan dan melarikan diri, namun akhirnya terperangkap. Penjaga sekolah itu langsung membawanya ke ruang Kepala Sekolah.
"Hei, pada ngapain kalian di sana?"
"Hah? Lariii...!!!"
"Lapor, Pak. Ada tiga anak yang lancang tanpa izin memasuki wilayah sekolah ini"
"Sudah, biarkan saja saya bicara dengan anak-anak ini". Untungnya Kepala Sekolah itu berhati mulia. Sehingga tiga bersahabat itu masih diberi kesempatan untuk menjelaskan maksud kedatangannya.
"Dari mana asal kalian? Ada keperluan apa?"
Ujang gemetar, "Ddddariii kampung sebelah, Pak. Kami mau kayak mereka, mau sekolah. Tapi gak ada biaya"
Diam sejenak, Kepala Sekolah memberi beberapa pertanyaan. Dan semua pertanyaan itu bisa dijawab. 
"Kamu tau? Berapa letak astronomis Indonesia?"
"95 derajat Bujur Timur sampai 141 Bujur Timur dan 6 derajat Lintang Utara sampai 11 derajat Lintang Selatan", jawab Ida.
"Dasar negara Indonesia?"
"Pancasila", jawab Tini.
"Planet yang kita tempati?"
"Bumi", jawab Ujang.
"Nah! Saya punya satu pertanyaan lagi. Mengapa terjadi siang dan malam?"
Dari situ mereka kebingungan. Tak lama kemudian, Ida ingat dengan apa yang pernah ia pelajari dari bukunya. Dan jawabannya itu benar. Sehingga mereka bisa diterima belajar di sekolah tersebut.
"Karena bumi kita berotasi"
"Ya! Jawabanmu benar. Saya terima kalian untuk belajar di sini. Kalau boleh saya tau, darimana kalian bisa tau itu semua?"
"Membaca adalah kuncinya", jawab mereka serentak. "Yes!"
Sungguh senang hati mereka. Dari sini kita tahu, bahwa suatu keinginan yang disertai dengan do'a dan usaha, pasti itu semua akan tercapai.







Tidak ada komentar:

Posting Komentar